Jumat, 22 Juli 2016

LAPORAN KUNJUNGAN OBSERVASI DESA SINAR RESMI KECAMATAN CISOLOK KABUPATEN SUKABUMI



Nama   : Putri Wulansari Purnama
NPM   : 0371 12 154
Kelas   : PGSD 6-J

LAPORAN KUNJUNGAN OBSERVASI DESA SINAR RESMI KECAMATAN CISOLOK KABUPATEN SUKABUMI

Setelah melakukan kunjungan observasi ke Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada tanggal 9-10 Juni 2015, terdapat tiga persoalan pokok yang ingin dipecahkan, yakni:

  1. Know: Apa yang anda ketahui tentang budaya sunda di kasepuhan sinar resmi sebelum anda datang ke lokasi?
Hal yang saya ketahui sebelum mengunjungi Kasepuhan Sinar Resmi adalah bahwa desa tersebut merupakan salah satu desa adat yang berpotensi tinggi dibidang pertanian khususnya padi, yang terletak di daerah pelabuhan ratu dan terkenal dengan ritual Seren Taunnya. Namun, mengenai detail dan cerita lebih lengkapnya saya belum mengetahui dengan pasti.

2.      Want: Setelah anda datang ke kasepuhan sinar resmi, apa yang ingin anda ketahui mengenai kasepuhan sinar resmi?
Setelah saya berkunjung ke Kasepuhan Sinar Resmi, hal yang ingin saya ketahui adalah:
a.       Bagaimana hukum adat dalam kehidupan masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi?
b.      Bagaimana sistem kepemimpinan Kasepuhan Sinar Resmi?
c.       Hal apa yang melandasi kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi sehingga masih memegang teguh tradisinya?
d.      Adakah pengaruh globalisasi terhadap kehidupan masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi?
e.       Ritual apa saja yang dilakukan oleh Kasepuhan Sinar Resmi?
f.       Apa yang dimaksud dengan upacara Seren Taun?



3.      Learn: Refleksi/kesimpulan mengenai moral, sikap, sosial dan nilai budaya yang terdapat di Kasepuhan Sinar Resmi
Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten. Dengan begitu termasuk kategori daerah Adat yang di kenal dengan sebutan “Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Sinar Resmi“.
Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi adalah suatu komunitas dengan segala kearifan lokalnya  yang dalam kesehariannya, menjalankan sosio budaya tradisional. Kasepuhan Sinar Resmi merupakan satu dari sebelas kasepuhan yang berada di wilayah Banten Selatan. Komunitas ini hidup secara turun temurun dari generasi ke generasi, begitu pula dengan kepemimpinan kasepuhannya. Saat ini Kasepuhan Sinar Resmi dipimpin oleh Pemangku Adat yaitu Abah Asep Nugraha. Jati diri inilah yang masih dipelihara dan diperkuat sebagai perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang lahir dari sebuah proses sejarah yang tidak terputus dalam perjalanan masa untuk terus menegakan martabat beserta hak asal-usul sebagai identitas budaya dan warisan budaya nasional.
Kasepuhan Sinar Resmi memiliki kesenian tradisional seperti debus, dog-dog lojor, panen padi, dll yang masih dilestarikan bahkan dijadikan pekerjaan yang memungkinkan para pemain/pelakon yang merupakan masyarakat asli Kasepuhan Sinar Resmi memperoleh penghasilan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, basis dari hukum adat kasepuhan adalah filosofi hidup, “tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh”, yang secara harfiah artinya “tiga se wajah, dua se rupa, satu yang itu juga”.  Tata  nilai  ini  mengandung  pengertian  bahwa  hidup  hanya  dapat  berlangsung dengan baik dan tenteram bila dipenuhi tiga syarat,  yaitu (1)  tekad, ucap dan lampah, (niat  atau  pemikiran,  ucapan  dan  tindakan)  harus  selaras  dan  dapat  dipertanggung jawabkan kepada  incu-putu (keturunan warga kasepuhan) dan  sesepuh (para orang tua dan  nenek  moyang);  (2)  jiwa,  raga  dan  perilaku,  harus  selaras  dan  berahlak;  (3) kepercayaan adat sara, nagara, dan mokaha harus selaras, harmonis dan tidak bertentangan satu dengan lainnya.
Selain pedoman dalam bersosialisasi antar masyarakat, masyarakat kasepuhan memiliki interaksi dengan alam. Melalui filosofi “Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu” yang intinya dalam kehidupannya, masyarakat harus menjaga keutuhan bumi beserta segala isinya sehingga keseimbangan alam pun tetap terjaga. Berdasarkan filosofi-filosofi inilah masyarakat kasepuhan memiliki keyakinan untuk terus menjaga apa yang sudah diwariskan oleh para leluhurnya, baik menjaga hubungan dengan manusia lain dan menjaga hubungan dengan alam.
Salah satu warisan leluhur yang masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat kasepuhan adalah sistem pertanian ladang/huma (rurukan) dan sawah yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Sistem pertanian ini tidak sekedar sebuah kegiatan pertanian yang secara umum menuju pada produktivitas, namun sistem pertanian di masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi lebih berorientasi pada suatu interaksi yang kuat antar masyarakat dengan Tuhan, masyarakat dengan masyarakat serta masyarakat dengan alam.  Dalam pengelolaan sistem pertanian, mulai dari mempersiapkan lahan sampai pada mengistirahatkan lahan kembali selalu diikuti dengan rangkaian upacara atau ritual adat yang menyertainya yang sudah diwariskan oleh para leluhur.
Pengaruh globalisasi yang begitu kuat dapat mengakibatkan lunturnya kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah di Indonesia. Begitu pula yang dialami masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi. Tidak sedikit masyarakat asli Kasepuhan Sinar Resmi yang menjual sawah kepada warga diluar kasepuhan untuk membeli motor, telepon genggam, dan lain-lain, sehingga warga luar yang tidak mengetahui adat yang masih dipegang teguh kurang menghargai. Namun, dengan adanya keyakinan yang dimiliki Kasepuhan Sinar Resmi untuk mempertahankan suatu kebudayaan maka kebudayaan tersebut akan tetap terpelihara
Ritual-ritual adat yang dilakukan di Kasepuhan Sinar Resmi dilakukan secara rutin dan berulang, dalam jangka bulanan dan tahunan. Ritual bulanan yang dilakukan adalah opatbelasna, yang dilakukan setiap bulan. Ritual tahunan terkait dengan sistem pertanian, prosesi pertanian sawah dan ladang, Sedekah Ruwah dan Mulud, Prah-prahan, Nyimur, Beberes Bengkong,  serta upacara Seren Taun yang dilakukan setahun sekali.
a.       Ritual Opatbelasna
Ritual ini dilakukan setiap tanggal 13 malam 14 dalam kalender Islam/Bulan Saka atau saat bulan purnama muncul. Ritual ini dilakukan untuk selamatan bulanan. Ritual ini dihadiri oleh Panghulu yang memimpin doa dan disaksikan oleh para kolot lembur. Dalam acara ini juga berbagai macam hidangan antara lain kue-kue seperti papais, awug, dan pasung yang dibuat oleh ibu-ibu. Pada malam harinya sebelum selamatan dimulai pada pukul 12 malam, ibu-ibu membuat rurujakan sembilan rupa diantaranya cau emas, anggur, jeruk, nanas, tomat, kelapa, pepaya, buah asam dan curing.
b.      Prosesi untuk Pertanian Ladang (Huma) dan Sawah
Sistem pertanian di Kasepuhan Sinar Resmi terbagi dalam pertanian ladang (huma) dan sawah. Keduanya memiliki perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya mulai dari mempersiapkan lahan untuk digarap hingga mengistirahatkan lahan yang telah digunakan. Setelah semua kegiatan pertanian selesai, diadakan kegiatan Tutup Nyambut yang menandakan selesainya semua aktivitas pertanian di sawah ditandai dengan acara selametan. Salah satu rangkaian kegiatan pertanian penting mengenai sistem pertanian sawah yang utama setelah upacara Seren Taun adalah Turun Nyambut. Kegiatan Turun Nyambut  merupakan pertanda dimulainya masa untuk membajak sawah dan mempersiapkan lahan untuk ditanami padi kembali.
c.       Seren Taun
Seren Taun adalah upacara Ritual dimana masyarakat adat kasepuhan mengucapkan rasa syukur dengan hasil panen yang berlimpah dan keberhasilan dalam bertani meskipun bercocok tanam satu kali dalam setahun dan bisa mencukupi kebutuhan beras dalam kurun waktu satu satahun. Setiap  hasil panen padi, baik padi dari sawah atau hasil padi dari ladang (huma) masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi menyimpan hasil panen nya ke dalam leuit (tempat penyimpanan padi) dan seren taun dilaksanakan setiap habis panen padi (panen pare), begitulah cara rasa bersyukur masyarakat adat Kasepuhan Sirna Resmi atau yang sekarang dirubah menjadi Sinar Resmi ini yang di pimpin oleh Pemangku Adat yaitu Abah Asep Nugraha.
Setiap kegiatan Seren Taun di ikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, baik masyarakat adat kasepuhan, masyarakat luar dan institusi Pemerintahan. selain acara ritual Seren Taun dengan memasukan padi kedalam leuit (ampih pare ka leuit) selama kegiatan seren taun ada berbagai macam hiburan kesenian daerah yang di suguhkan untuk menghibur masyarakat adat Sinar Resmi yang telah bekerja selama satu tahun dalam pertanian, para tamu undangan, maupun dari luar masyarakat adat yang hadir mencapai ribuan orang.
d.      Sedekah Ruwah dan Sedekah Mulud
Sedekah Mulud merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang dilakukan adalah pembacaan doa untuk selametan dan membagikan makanan kepada warga. Sebelum memasak makanan, para ibu harus membersihkan rambut dan badan (diangir mandi) menggunakan beuleum sapu pare, serta alat-alat yang digunakan untuk memasak seperti dulang, kukusan, hihid, pangarih, dandang/ seeng, kuluwung, dan aseupan, harus dicuci bersih sebelum digunakan. Kemudian, para ibu mulai memasak nasi untuk dibawa ke rumah panghulu untuk selametan dan dibagikan kepada warga. Sedekah Mulud dilakukan pada hari Rabu. Sedekah Ruwah merupakan peringatan hari wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kegiatan sedekah Ruwah, sama dengan kegiatan Sedekah Mulud. Namun, sedekah Ruwah dilaksanakan pada hari Jumat.
e.       Prah-prahan
Prah-prahan merupakan kegiatan menjaga dan menghindarkan segala penyakit (tolak bala) yang dilakukan pada pada Bulan Safar dalam kalender Islam. Semua warga dan incu putu ditandai oleh ketupat dan tangtang angin baik di rumah maupun di kandang ternak.
f.       Nyimur
Nyimur merupakan ritual dimana seluruh balita (usia 0-5 tahun) dikumpulkan untuk diteteskan (peureuh) air kembang ke dalam mata. Acara ini dilaksanakan  di rumah dukun pada Bulan Silih Mulud.
g.      Beberes Bengkong
Kegiatan sesudah mengkhitankan semua incu putu baik laki-laki maupun perempuan. Untuk perempuan sekitar usia 2 atau 3 tahun sedangkan untuk laki-laki sekitar usia 5 sampai 7 tahun. Setelah selesai khitan, yang mempunyai hajat memberikan beras dan uang ke bengkong sebagai parawanten. Kemudian bengkong (orang yang mengkhitankan laki-laki) dan ema’ berang (orang yang mengkhitankan perempuan) membuat nasi tumpeng yang akan diserahkan ke rumah Abah.




  
 

Analisis Perkembangan Masyarakat dan Budaya di Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor



Nama   : Putri Wulansari Purnama
NPM   : 0371 12 154
Kelas   : PGSD 6-J

Analisis Perkembangan Masyarakat dan Budaya di Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor

Pada hari Jum’at, tanggal 8 Mei 2015 lalu, melalui wawancara yang saya lakukan dengan ketua RT 02 desa Karangtengah, yaitu bapak Somad berkenaan dengan perkembangan masyarakat dan budaya yang meliputi gaya berpakaian, pemakaian teknologi, bahasa yang digunakan, pergaulan sosial, pendidikan dan budaya, serta pembangunan dan pariwisata masyarakat setempat dapat saya tuliskan sebagai berikut:
A.    Gaya Berpakaian
Ketika saya mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana gaya berpakaian dan penampilan warga RT 02 saat ini. Bapak Somad selaku ketua RT 02 di desa Karangtengah menjawab, saat ini masyarakat desa Karangtengah khususnya untuk pemuda dan pemudi mengalami banyak sekali perubahan. Dulu, remaja perempuan lebih senang menggunakan rok ketika keluar rumah dan memakai kerudung walaupun hanya disangkutkan dileher, dan remaja laki-laki ketika sore menjelang berpakaian dengan koko dan pecinya untuk bersiap ke masjid. Tapi sekarang anak muda perempuan lebih senang menggunakan celana jeans serta menggunakan atasan ngetat dan membentuk badan, bahkan rambut mereka bisa menjadi sangat lurus dan berwarna-warni. Remaja laki-laki senang menggunakan celana panjang jeans juga walaupun tidak ada yang aneh-aneh, namun sekarang remaja lelaki sepertinya lebih banyak menggunakan topi ketimbang peci ketika diluar rumah.


  1. Penggunaan Teknologi
Bapak Somad menjelaskan dalam bidang teknologi sekarang ini masyarakat Karangtengah khususnya warga RT 02 sudah banyak tahu. Misalnya handphone, dari anak kecil sampai orangtua pun sudah bisa menggunakannya walaupun hanya menelepon dan sms. Selain itu di setiap rumah pasti memiliki televisi dan motor, dulu hanya orang tertentu saja yang mempunyainya. Namun sayangnya kemajuan teknologi ini mengakibatkan berkurangnya anak-anak yang bermain permainan tradisional, mereka lebih senang bermain game di handphone atau di rental Play Station dan warnet.
  1. Bahasa yang Digunakan
Menurut bapak Somad untuk bahasa sehari-hari masyarakat asli Karangtengah yang mayoritas berasal dari tanah Sunda masih menggunakan bahasa tradisional yaitu bahasa Sunda terutama untuk sesama orang Sunda. Namun bukan berarti mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, karena di Karangtengah sendiri banyak sekali perantauan yang bahkan lebih lama tinggal di Karangtengah ketimbang keturunan-keturunan asli Karangtengah, maka banyak pula yang menggunakan bahasa Indonesia. Tapi sekarang ini masyarakat yang menggunakan Bahasa Sunda Alus (bahasa sunda yang sopan) sedikit sekali. Jangankan pemuda, orang dewasapun sekarang menggunakan bahasa sunda yang kasar dan kurang sopan di dengar.
  1. Pergaulan Sosial
Bapak Somad menuturkan beberapa tahun lalu sosialisasi dan kegiatan warga sangat kurang, namun setelah pembentukan pengurus RT yang baru, saat ini di RT 02 masyarakatnya memiliki sosialisasi yang baik, sebulan sekali kaum laki-laki bergotong royong membersihkan parit dan jalanan untuk menghindari banjir dan nyamuk demam berdarah. Selain itu, akhir-akhir ini sedang ramai-ramainya pencurian motor, maka dibentuk jadwal ronda harian yang sejauh ini berjalan baik. Untuk kaum perempuan atau ibu-ibu seminggu sekali mengadakan pengajian di majlis.


  1. Pendidikan dan Budaya
Menurut bapak Somad saat ini orangtua sudah paham betul betapa pentingnya pendidikan sehingga menyekolahkan anak mereka hingga SMA. Namun ada juga yang masih berpendidikan sebatas SMP, SD bahkan tidak tamat SD, hal itu biasanya karena faktor ekonomi dan ketidaktahuan orangtua mereka terdahulu. Untuk kebudayaan, saat ini sulit sekali menemukan pentas-pentas seni di desa kita karena sedikitnya peminat.
  1. Pembangunan dan Pariwisata
Menurut bapak Somad pembangunan dan pariwisata di desa Karangtengah  meningkat pesat semenjak adanya Jungle Land dan pembangunan perumahan serta apartemen yang sedang berlangsung, itu juga berdampak positif bagi perekonomian warga karena menyerap tenaga kerja warga asli Karangtengah. Selain itu dengan kemajuan teknologi,  Wisata Alam Gunung Pancar dan Curug Hejo yang awalnya kurang diminati sekarang ini menjadi sangat popular. Setiap hari sabtu dan minggu sangat ramai. Namun disayangkan sekali jalan di desa ini kurang lebar dan ada yang berlubang sehingga kadang menjadi macet.

Analisis Perkembangan Masyarakat dan Budaya di Desa Karangtengah berdasarkan penuturan ketua RT:
Globalisasi menjadi faktor utama perubahan dan perkembangan yang terjadi. Globalisasi akan menimbulkan gejala perubahan terhadap kelompok sosial yang bersangkutan. Setiap gejala perubahan akan menimbulkan konflik atau perbedaan sudut pandang yang terjadi antar kelompok social ada yang menerima da nada yang menolak arus globalisasi tersebut.
Dampak globalisasi ini terlihat dalam bidang teknologi, sumber daya manusia dan sosial budaya masyarakat. Yang paling menonjol adalah kemajuan teknologi dan internet yang tidak memandang batasan usia. Teknologi dan internet bahkan dianggap sebagai bagian yang penting bagi sebagian orang, dalam hal ini globalisasi tidak dapat dihindari lagi dan dapat membawa efek positif dan negative tergantung bagaimana kita menghadapinya. Teknologi dan Internet akan menjadi sangat berguna dan membantu jika kita menggunakannya secara benar dan wajar, namun akan menjadi boomerang ketika kita tidak mengetahui batasan-batasannya. Dalam bidang sumber daya manusia, hal positif dari globalisasi yaitu menumbuhkan kinerja yang berwawasan luas dan beretos kerja tinggi. Namun negatifnya globalisasi memunculkan sifat konsumerisme dan konsumtif. Dari segi sosial budaya masyarakat dampak positif globalisasi yakni dapat menumbuhkan keterbukaan dan tanggap terhadap unsur pembaharuan. Negatifnya keterbukaan itu kadang tidak dibatasi sehingga mengakibatkan pergeseran nilai dan norma yang ada dikehidupan masyarakat, masyarakat yang tidak siap mengatasi perubahan-perubahan itu akhirnya menjadi kebingungan bahkan berperilaku tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia, khususnya bagi remaja yang secara sosial belum memiliki identitas yang mantap dan masih berubah-ubah pendiriannya.















 
 
 
Suasana lingkungan tempat tinggal dan foto ketika pemilihan umum legislatif



Rabu, 13 Juli 2016

makalah bentuk instrumen non tes



MAKALAH
Bentuk-bentuk Instrumen Non-Tes
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran
Dosen : Dr. Indarini Dwi Pursitasari., M.Si.

Description: Description: Description: FKIP.jpg

Disusun oleh :
Kelompok 9
Putri Wulansari P.       ( 0371 12 154 )
Eka Apriliyanti            ( 0371 12 106 )
Elisa Susanti                ( 0371 12 423 )
VI / J

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’allaikum Wr. Wb.
           
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, sebab berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Judul materi yang akan kami bahas yaitu tentang “Bentuk-bentuk Instrumen Non-Tes”. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
             Kami  menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Sehingga  memerlukan banyak sekali perbaikan. Kami berharap kepada para pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang bermanfaat untuk kami agar bisa menyelesaikan tugas selanjutnya agar lebih baik lagi.

Wassalamu’allaikum Wr. Wb.


                                                                                    Bogor, Maret 2015
                                                                                                           


                        Penyusun






DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................. ii
Bab I  Pendahuluan............................................................................................. 1
          I.I  Latar Belakang.................................................................................... 1
 I.II Rumusan Masalah.............................................................................. 2
 I.III Tujuan............................................................................................... 2
Bab II Pembahasan............................................................................................. 3
II.I Pengertian Teknik Non-Tes................................................................. 3
II.II Jenis-jenis Teknik Non-Tes................................................................ 3
II.III Alat Penilaian Teknik Non-Tes...................................................... 14
Bab III Penutup................................................................................................ 24
III.I Kesimpulan...................................................................................... 24
III.II Saran............................................................................................... 24
Daftar Pustaka……………………………………………………………….25





BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
      Pengajaran merupakan upaya guru secara konkret dilakukan untuk menyampaikan bahan kurikulum agar dapat diserap oleh murid. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri dari berbagai komponen berupa tujuan, bahan, metode, dan alat serta penilaian. Dalam hubungan itu, tujuan menempati posisi kunci. Bahan adalah isi pengajaran yang apabila dipelajari siswa diharapkan tujuan akan tercapai. Metode dan alat berperan sebagai alat pembantu untuk memudahkan guru dalam mengajar dan murid dalam belajar. Sedangkan penilain dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana murid telah mengalami proses pembelajaran yang ditujukan oleh perubahan perilakunya.
Hasil belajar dari proses belajar tidak hanya dinilai oleh test, tetapi juga harus dinilai oleh alat-alat non test atau bukan test. Tehnik ini berguna untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar yang tidak dapat diukur dengan alat tes. Penggunaan tehnik ini dalam evaluasi pembelajaran terutama karena banyak aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas. Sasaran teknik ini adalah perbuatan, ucapan, kegiatan, pengalaman,tingkah laku, riwayat hidup, dan lain-lain. Menurut Hasyim (1997;9) ”penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa-siswa secara langsung dengan tugastugas yang riil”. Adapun menurut Sudjana (1986;67), kelebihan non test dari test adalah sifatnya lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek efektif dan psikomotorik, yang dinilai saat proses pelajaran berlangsung.
Saat ini penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan alat melalui tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Padahal ada aspek-aspek yang tidak bisa terukur secara “realtime” dengan hanya menggunakan test, seperti pada mata pelajaran matematika. Pada tes siswa dapat menjawab dengan tepat saat diberi pertanyaan tentang langkah-langkah melukis sudut menggunakan jangka tanpa busur, tetapi waktu diminta melukis secara langsung di kertas atau papan tulis ternyata cara menggunakan jangka saja mereka tidak bisa. Jadi dengan menggunakan nontes guru bisa menilai siswa secara komprehensif, bukan hanya dari aspek kognitif saja, tapi juga afektif dan psikomotornya.
Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan diatas, maka diperlukan suatu langkah-langkah untuk penyusunan dan pengembangan instrument nontes. Hal ini juga dapat digunakan untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing-masing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran.

I.II Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1.      Apa saja jenis-jenis instrument teknik non tes itu?
2.      Bagaimana cara pengembangan instrumen teknik non tes?
                                                                                     
I.III Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka penulisan makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Menyajikan jenis-jenis teknik non tes
2.      Menyusun cara pengembangan instrumen teknik nontes



















BAB II
PEMBAHASAN

II.I Pengertian Teknik Non-Tes

Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian. Selama ini teknik nontes kurang digunakan dibandingkan teknis tes. Dalam proses pembelajaran pada umumnya kegiatan penilaian mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya aspek pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru pada saat menentukan pencapaian hasil belajar siswa. Seiring dengan berlakunya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar maka teknik penilaian harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.
a.       kompetensi yang diukur;
b.      aspek yang akan diukur (pengetahuan, keterampilan atau sikap);
c.       kemampuan siswa yang akan diukur;
d.      sarana dan prasarana yang ada.

II.II Jenis-Jenis Teknik Non Tes
Hasil belajar dan proses balajar tidak hanya dinilai dengan tes, baik melalui bentuk soal tes obyektif maupun tes subyektif, tetapi juga dapat dinilai oleh teknik dan alat penilaian bukan tes atau non-tes. Teknis non-tes ini digunakan untuk menilai aspek-aspek pada diri siswa yang sulit atau tidak dapat diukur dengan angka misalnya : menilai sikap, minat, kerajinan, hubungan sosial dan sebagainya. Teknik non-tes dilaksanakan melalui wawancara, obsevasi, angket/kuesioner dan studi kasus, adapun alat yang dapat digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, catatan anekdot, inventory, sosiometri, skala penilaian, skala sikap, buku pribadi, buku laporan pendidikan. Pelaksanaan wawancara, observasi, angket, dan studi kasus dapat mempergunakan satu atau lebih alat penilaian dari sepuluh yang ada, disesuaikan dengan kebutuhan penilaian.



  1. Pengamatan atau observasi
Observasi, merupakan kegiatan penilaian non-tes yang dilaksanakan melalui pengamatan/mengamati prilaku siswa atau proses terjadinya suatu kegiatan, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan dan tidak dapat diukur dengan angka. Pengamatan atau observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi untuk tujuan ini pencatatannya lebih sukar daripada mencatat jawaban yang diberikan peserta tes terhadap pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes, karena respon observasi adalah tingkah laku yang prosesnya berlangsung cepat. Contoh observasi untuk tujuan evaluasi adalah observasi untuk menilai atau mengukur hasil belajar melalui pengamatan tingkah laku siswa pada saat guru mengajar, misalnya: aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi, partisipasi siswa dalam simulasi, sikap siswa saat belajar di kelas, aktivitas siswa dalam kegiatan kelompok dan sebagainya.
a.      Jenis-jenis Observasi
Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:
1)      Observasi partisipatif (participant observation) dan non-partisipatif (non-participant observation). Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi/pengamat (observer) ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan observasi non-partisipatif, observer tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka.
2)      Observasi sistematis dan observasi non-sitematis. Observasi sistematis adalah pengamatan yang terlebih dahulu direncanakan segala sesuatunya dengan teliti (observer sudah mengatur struktur yang berisi kategori atau kriteria, dan masalah yang akan diamati) sampai bagaimana pengguna hasil pengamatan. Sedangkan observasi non-sistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati (pengamatan yang tidak direncanakan dengan baik).
Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mngamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.
3)      Observasi Experimental dan observasi non-experimental. Observasi eksperimental adalah pengamatan yang terlibih dahulu dibuat sisi dengan sengaja diciptakan (situasi buatan) untuk memmenuhi kebutuhan penilaian (observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis). Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan. Sedangkan observasi non-eksperimental adalah observasi yang dilakukan dalam situasi yang wajar. Pada observasi eksperimental, tingkah laku diharapkan muncul karena peserta didik dikenai perlakuan, maka observer perlu persiapan yang benar-benar matang, sedangkan pada observasi noneksperimental pelaksanaannya lebih sederhana.

Sebagai alat evaluasi, tujuan observasi yaitu:
1)      Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.
2)      Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.
3)      Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data

b.      Sifat Observasi
Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu:
1. Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran
2. Direncanakan secara sistematis
3. Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan
4. Dapat diperika validitas, rehabilitas dan ketelitiaanya


c.       Kelebihan dan Kelemahan Observasi
Kelebihan Observasi, antara lain:
1.      Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.
2.      Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting.
3.      Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari tehnik lain, misalnya wawancara atau angket.
4.      Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.
Kelemahan Observasi, antara lain:
1.      Observer tiidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyayi, dia kelihatan gembira, lincah . Tetapi belum tentu hatinya gembira, dan bahagia. Mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.
2.      Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.
3.      Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol sebelumya.

d.      Langkah-langkah menyusun observasi:
1.      Merumuskan tujuan
2.      Merumuskan kegiatan
3.      Menyusun langkah-langkah
4.      Menyusun kisi-kisi
5.      Menyusun panduan observasi
6.      Menyusun alat penilaian


2.      Wawancara
Secara umum wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan tanya jawab baik secara lisan, sepihak, berhadapan muka, maupun dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
a.      Jenis-jenis Wawancara
1)      Wawancara terpimpin (Guided Interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (Structured Interview) atau wawancara sistematis (Systematic Interview) dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja.
2)      Wawancara tidak terpimpin (Un-Guided Interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (Simple Interview) atau wawancara tidak sistematis (Non- Systematic Interview), atau wawancara bebas, yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara.

Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :
a.       Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai.
b.      Keterampilan pewawancara. Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakan wawancara.
c.       Pedoman wawancara. Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.




b.      Kelebihan dan Kelemahan Wawancara
Kelebihan wawancara yaitu :
1.      Wawancara dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada hubungan baik antara pewawancara dengan objek.
2.      Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya.
3.      Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan dengan observasi dan angket.
4.      Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan objek.

Sedangkan Kelemahan wawancara:
1.      Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu yang diwawancarai.
2.      Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksaan wawancara.
3.      Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara.
4.      Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil wawancara.

c.       Langkah-langkah penyusunan wawancara :
1.      Perumusan tujuan
2.      Perumusan kegiatan atau aspek-aspek yang dinilai
3.      Penyusunan kisi-kisi
4.      Penyusunan pedoman wawancara
5.      Lembaran penilaian



d.      Hal-hal yang perlu diperhatikan didalam guru sebagai pewawancara:
    1. Guru yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai background tentang apa yang akan ditanyakan.
3.      Guru harus menjalankan wawancara dengan baik tentang maksud wawancara tersebut.
4.      Harus menjaga hubungan yang baik.
5.      Guru harus mempunyai sifat yang dapat dipercaya.
6.      Pertanyaan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya jelas.
7.      Hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya wawancara.
8.      Guru harus mengunakan bahasa sesuai kemampuan siswa yang menjadi sumber data.
9.      Hindari kevakuman pembicaraan yang terlalu lama.
10.  Guru harus mengobrol dalam wawancara.
11.  Batasi waktu wawancara.
12.  Hindari penonjolan aku dari guru

Contoh wawancara:
“Bagaimana cara kamu menghitung luas dari gambar trapezium ini? ”
“Mengapa kamu menggunakan cara tersebut?”
“Dari mana kamu mengetahui cara tersebut?”

3.      Angket (kuesioner)
Angket/kuesioner, merupakan kegiatan penilaian non-tes yang dilaksanakan melalui pemberian serangkaian pertanyaan atau pernyataan secara tertulis.  Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Angket adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa daftar pertanyaan tertulis untuk menjaring informasi tentang sesuatu, misalnya tentang latar belakang keluarga siswa, kesehatan siswa, tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran, media, dan lain- lain. Angket umumnya dipergunakan pada ranah afektif.

  1. Jenis-jenis Angket (Kuesioner)
Ø  Ditinjau dari segi yang memberikan jawaban:
1)      Angket Langsung, apabila angket itu diberikan kepada anak yang dinilai atau dimintai keterangan
2)      Angket Tak Langsung, angket diberikan kepada orang/siswa lain untuk dimintai keterangan tentang keadaan orang lain. Misalnya diberikan kepada orangtuanya, atau diberikan kepada temannya.
Ø  Ditinjau dari segi cara menjawab:
1)      Angket tertutup adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek () pada jawaban yang ia anggap sesuai.
2)      Angket terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.
Ø  Ditinjau dari strukturnya:
1)      Angket berstuktur adalah angket yang bersifat tegas dan jelas dengan model pertanyan yang terbatas, singkat dan membutuhkan jawaban tegas dan terbatas pula.
2)      Angket tidak berstruktur adalah angket yang membutuhkan jawaban uraian panjang, dari anak, dan bebas. Yang biasanya anak dituntut untuk memberi penjelasan- penjelasan, alasan-alasan terbuka.

b.      Kelebihan dan Kelemahan Angket
Kelebihan angket antara lain:
1.      Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya membutuhkan waktu yang sigkat.
2.      Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama.
3.      Dengan angket anak pengaruh subjektif dari guru dapat dihindarkan.

Kelemahan angket, antara lain:
1.      Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas, sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali.
2.      Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.
3.      Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima, sehingga tidak memberikan kembali angketnya.

c.       Langkah-Langkah Menyusun Angket
1.      Merumuskan tujuan
2.      Merumuskan kegiatan
3.      Menyusun langkah-langkah
4.      Menyusun kisi-kisi
5.      Menyusun panduan angket
6.      Menyusun alat penilaian

4.      Penugasan
      Penilaian dengan penugasan adalah suatu teknik penilaian yang menuntut peserta didik melakukan kegiatan tertentu di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Penilaian dengan penugasan dapat diberikan secara individual atau kelompok. Penilaian dengan penugasan dapat berupa tugas atau proyek.
Ø  Tugas
Tugas adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara terstruktur di luar kegiatan kelas, misalnya tugas membuat cerita tentang matematikawan, menulis puisi matematika, mengamati suatu obyek, dan lain-lain. Hasil pelaksanaan tugas ini bisa berupa hasil karya, seperti: karya puisi, cerita; bisa pula berupa laporan, seperti: laporan pengamatan.
Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1.      Banyaknya tugas setiap mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan siswa karena memerlukan waktu untuk istirahat, bermain, belajar mata pelajaran lain, bersosialisasi dengan teman, dan lingkungan sosial lainnya.
2.      Jenis dan materi pemberian tugas harus didasarkan kepada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih siswa menerapkan atau menggunakan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya. Materi tugas dipilih yang esensial sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan hidup yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, perkembangan, dan lingkungannya.
3.      Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreativitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian.

Ø  Proyek
            Proyek adalah suatu tugas yang melibatkan kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
Contoh proyek antara lain: melakukan pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, percobaan foto sintesis tumbuhan dan perkembangan tanaman, mengukur tinggi pohon dan lebar sungai menggunakan klinometer.
Contoh keterampilan yang dinilai dalam pelaksanaan suatu proyek.
1.      Tahap Persiapan : kemampuan membuat perencanaan, merancang kegiatan, dan mengembangkan suatu ide.
2.      Tahap Produksi : kemampuan memilih dan menggunakan bahan, peralatan, dan langkah-langkah kerja.
3.      Tahap Pelaporan : kemampuan melaporkan hasil pelaksanaan proyek, kendala yang dihadapi, kelengkapan dan keruntutan laporan.

5. Studi Kasus
      Studi kasus, pada dasarnya studi kasus dilakukan dalam rangka memberikan penilaian pada seseorang individu/siswa yang dipandang/diduga “mengalami kesulitan”, dipelajari dengan tujuan untuk memberikan bantuan dalam “penyembuhan” misalnya: anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar anak yang nakal. Anak/siswa yang seperti tersebut diatas dikatakan mengalami suatu kasus tertentu. Kasus-kasus dipelajari secara mendalam dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Mendalam artinya mengungkapkan semua variabel yang menyebabkan terjadinya kasus dan dari berbagai aspek yang mempengaruhinya.
      Untuk menyelesaikan persoalan/kasus, perlu dicari dan dikumpulkan data yang berkenaan dengan kegiatan individu/siswa pada masa lalu dan sekarang serta lingkungan yang mempengaruhinya. Data diperoleh dari berbagai sumber, seperti orang tuanya, teman dekatnya, gurunya dan dirinya sendiri. Teknik memperoleh data bisa dilakukan dengan barbagai cara, misalnya obsevasi, wawancara, anlisis dokumenter, kunjungan rumah, mempelajari daftar diri, buku raport dan sebagainya.
a.      Kelebihan dan Kelemahan Studi Kasus
Kelebihan studi kasus adalah suatu subyek dapat dipelajari secara mendalam dan menyeluruh, dan kelemahannya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subjektif, artinya hanya berlaku untuk individu/siswa yang bersangkutan dan belum tentu dapat dipakai untuk kasus yang sama pada individu/siswa yang berbeda. 
b.      Langkah-Langkah Penyusunan Studi Kasus
1.      Menemukan/mengenali siswa sebagai kasus,
2.      Menetapkan jenis masalah yang dihadapi individu/siswa,
3.      Mengumpulkan data atau bukti untuk meyakinkan kebenaran yang dihadapi individu/siswa melalui analisis hasil belajar,
4.      Mengamati prilakunya,
5.      Bertanya pada kawan sekelasnya,
6.      Mencari faktor penyebab,
7.      Menentukan alternatif bantuan,
8.      Terakhir mengamati perubahan prilaku individu/siswa dan merencanakan langkah tindak lanjut.



II.III Alat Penilaian Teknik Non-Tes
             Pedoman observasi, merupakan alat yang harus ada pada saat pengamat akan melakukan pengamatan/observasi, pedoman ini dapat berbentuk  bebas (tidak perlu ada jawaban), apabila menggunakan pedoman yang terstuktur, tetapkan kemungkinan jawaban serta indikator-indikator yang harus diamati agar dapat dijadikan penggangan bagi pengamat pada saat melakukan pengamatan/observasi.
Pedoman wawancara, merupakan alat yang harus ada pada saat berlangsung percakapan antara pewawancara dengan yang diwawancara. Pedoman ini bisa berbentuk bebas dan berstruktur, bentuk bebas yaitu pedoman yang tidak disertaidengan kemungkinan jawaban sehingga siswa bebas mengemukakan pendapatnya, kelebihannya ialah informasi lebih padat dan lengkap, pewawancara harus berkerja keras dalam menganalisis jawaban siswa yang beraneka ragam.
Angket/Kuesioner, merupakan alat tertulis penilaian non-tes yang berupa serangkaian pertanyaan/pernyataan yang harus dijawab responden. Kelebihan kuesioner adalah ialah sifatnya yang praktis, hemat, waktu, tenaga, dan biaya. Cara penyampaian kuesiner dapat langsung disampaikan kepada yang bersangkutan ataun disampaikan melalui pihak lain (Via pos). bentuk kuesioner ada macamnya, yaitu : kuesioner  terbuka dan berstruktur, penjelasannya hampir sama dengan bentuk pedoman wawancara.
            Catatan anekdot, merupakan alat penilaian yang dapat digunakan saat guru melakukan observasi. Guru bisa mencatat apa ssja mengenai siswa yang sedang ada pengamatannya, cacatan ini dilaksanakan dengan tidak formal, lebih bersifat melengkapai data/informasi yang telah ada. Terdapat dua bentuk anekdot, yaitu catatan anekdot deskripsi, mencatat apa adanya yang diamati dan acatatan anekdot interpretative, catatan yang kemudian diberikan tafsiran/ interpretasi oleh yang mengamati.
            Inventory, atau dapat juga disebut inventaris, sebagai alat penilaian non-tes, merupakan suatu daftar yang lengkap, yang merupakan iventarisasi keterangan-keterangan yang diperlukan mengenai siswa, untuk keperluan ini disusun sebuah daftar yang harus diisi oleh siswa isi daftar ini antara lain sosiometri, sosiometri tidak dipergunakan untuk memperoleh data mengenai siswa sebagai individu, tetapi untuk memperoleh data yang menggambarkan mengenai hubungan social diantara siswa dalam satu kelas. Dengan teknik sosiometri dapat diketahui  misalnya siswa yang terisolasisiswa yang paling disenangi oleh teman-temannya, siswa yang akrab dengan beberapa temanya saja dan sebagainya.
            Skala penilaian, skala yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang/siswa terhadap objek, peristiwa atau nilai/value tertentu. Hasilnya berupa katagori sikap yaitu mendukung (positif), menolak  (negatif) netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berprilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya.
Ada tiga komponen sikap, yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Kognisi berekanaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau stimulus yang dihadapinya. Afeksi berkenanaan dengan perasaan dalam menanggapi objek/stimulus tersebut. sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu , misalnya sikap siswa terhadap mata pelajaran, sikap siswa terhadap kinerja guru, sikap siswa terhadap kegiatan ektra kulikuler dan sebagainya.
Skala sikap dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernytaan itu didukung  atau ditolaknya melalui rentannya nilai tertentu, dua katagori pernyataan yaitu, penytaan positif dan pernyataan negtaif, skor untuk pernyataan positif berbalik untuk skor pernyataan negtaif. Contoh :
Pernyataan sikap
Sangat setuju
Setuju
Tidak punya pilihan
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Pernyataan positif
5
4
3
2
1
Pernyataan negatif
1
2
3
4
5

            Buku pribadi, buku pribadi cummulaitive Record, merupakn buku yang berisi catatan-catatan keterangan yang lengkap mengenai seseorang siswa. Ini merupkan kumpulan keterangan untuk seorang siwa yang himpun sejak ia masuk sekolah. Isi buku pribadi antar lain adalah keterangan pribadi (nama tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, tempat tinggal, nama dan pekerjaan orang tua, tanggal masuk sekolah), keterangan akademik (raport, hasl tes intelagasi, hasil kegiatan ektrakulikuler, prestasi yang pernanh diraih, hasil tes dan bakat minat), keterangan keluarga (pekerjaan orang tua, jumlah,saudara, pendidikan oaring tua, status sosial keluarga, keadaan lingkungan dan suasana keluarga), keterangan lain-lain (hasil observasi, wawancra, kunjungan rumah, hasil sosiometri, hasil pemekrisaan kesehatan dan lain-lain.
Raport, buku laporan pendidikan, merupakan alat penilaian non-tes yang berisi mengenai hasil dan kemajuan hasil prestasi belajar siswa yang harus diketahui orangtua dan berfungsi juga sebagai data dokumentasi, yang sewaktu-waktu bisa dipergunakan.
            Penyetoran tes lisan, penyetoran tes lisan sama dengan penyetoran tes uraian, namun dalam tes lisan, penyetorannya dapat dilakukan lebih akurat karena ada kesempatan untuk melakukan pengecekan jawaban testi, agar penyetoran dalam tes lisan dapat dilakukan secara cermat, perhatikan hal-hal berikut : gunakan pedoman penyetoran, penyetoran dilakukan segera setelah testi selesai menjawab setiap pernyataan/soal, peneyetoran semata-mata diberikan pada mutu jawaban testi.
            Contoh Pedoman Penyetoran Tes Lisan.
            Bidang studi   :……………………………
            Nama Testi      : …………………………..
            Kelas               :……………………………...
            Tanggal           :……………………………..
           
No
Pokok Pertanyaan
Pokok jawaban yang diharapkan
Pokok jawaban testi
Skor
Keterangan







Penyetoran hasil tindakan, penyetoran tes tindakan didasarkan pada sejumlah mana keterampilan dan ketepatan testi meragakan tindakan/kegiatan sesuai dengan petunjuk/soal. Penguji harus memiliki jawaban operasional mengenai keterampilan yang diharapkan para penguji harus mengetahui pola penampilan yang seharusnya. Hal-hal yang dapat dijadikan acuan dalam pemberian skor adalah kecepatan penampilan, ketepatan cara melakukan, ketelitian keterampilan menggunakan alat, kesesuaian dengan petunjuk/intruksi. Dalam proses penyetoran, sebaiknya menggunakan pedoman pengamatan (pedoman penyetoran), skor akhir sama dengan  rata-rata skor setiap pengamat (apabila pengamat/penguji lebih dari satu orang).
            Contoh Pedoman Pengamatan Tes Tindakan
            Bidang Studi :……………….
            Nama Testi    :……………….
            Kelas              :……………….
            Tanggal          : ……………….
No
Aspek prilaku yang diamati
Skor
Keterangan





PENGOLAHAN SKOR
Pengolahan skor dimaksudkan untuk batas lulus dan mengubah skor mentah menjadi skor matang/ terjabar.
Langkah- langkah pengolahan skor adalah sebagai berikut :
·         Mengumpulkan/ memiliki data hasil tes/ skor mentah ; menghitung rata- rata kelompok  dan standar devisi (SD) ; menetapkan batas lulusan aktual dan (atau) ideal ; menghitung skor mentah menjadi skor matang / terjabar ke dalam skala 1-10, skala 10-100. Cummulative Percentile rank (CPR) dan Percentile Rank (PR)
Berikut akan disajikan teknik-teknik dan contoh pengolahan skor :
1.      Untuk data yang tidak di kelompokan (Jumlah testi kurang dari 30 orang).


Nama Testi
Skor
 A
B
C
D
E
=5
6
7
8
9
9
=39

Rumus :
            X = ∑X
                  N
            X = 39
                   5
               = 7,80.




Standar Deviasi :
Nama Testi
Skor
X (skor-X)
A
B
C
D
E          
6
7
8
9
9
-1,8
-0,8
0,2
1,2
1,2
3,24
0,54
0,04
1,44
1,44
 ∑ = 5
39

6,8

Rumus  SD =
X =  = 7,80
SD =  =  = 1,16


2.      Untuk data yang dikelompokkan (jumlah testi lebih dari 30 orang) ; menghitung dan SD.
Contoh :
Data :  30     60      40      65     71     66      70
            35     60     45      65     72      74      70
            45     85     47      70      73     67      82
            25     30     47      42      84     80      88
            60     34     50      70      65     66      50
Range = 88 – 25 = 63
KI = 1 + 3,3 log N = 1 + 3,3 log 35
    = 1 + 3,3 . 1,54 = 1 + 5,08 = 6,8 = 7
Interval/i =  =  = 9
Distribusi Frekuensi
No.
KI
Tally
f
d
Fd
1
2
3
4
5
6
7
85 – 94
75 – 84
65 – 74
55 – 64
45 – 54
35 – 44
25 – 34
II
III
IIII IIII IIII
III
IIII I
III
IIII
2
3
14
3
6
3
4
+3
+2
+1
0
-1
-2
-3
6
6
14
0
-6
-6
-12
18
12
14
0
6
12
36



35

2
98

Rumus X : Mi + i                       X = rata-rata yang dicari
            Mi = mean terduga
            I    = interval
            N   = jumlah testi
            Fd = jumlah frekuensi kali pada setiap interval
            D   = deviasi terduga.
Rumus SD = i
Jadi X = 59,5 + i  = 59,5 + 9 = (0,05)
           =  59,5 + 0,45 = 59,45
SD      = 9
           = 9  = 9
           = 9 = 1,67 = 15,03

  • Menetapkan batas lulus/passing grade:
Angka batas lulus biasanya ditetapkan +0,25. SD, karena angka ini dianggap ekuivalen dengan nilai 6 pada skala 1-10. Berdasarkan contoh diatas, sudah diperoleh dan SD untuk data yang tidak boleh dikelompokkan dan untuk data yang dikelompokkan.
Jadi batas lulus untuk data yang tidak dikelompokkan adalah: 7,80+0,25-1,16=7,80+0,29=8,09 dan batas lulus data yang dikelompokkan adalah: 59,95+0,25-15,03+59,95+3,75+63,7
Batas lulus yang diperoleh dengan cara diatas disebut batas lulus actual, karena penentuannya didasarkan pada data/skor actual yang dicapai para testi. Cara lain yang dapat ditempuh dengan menentukan batas lulus ideal, yang perhitungannya didasarkan pada ideal dan SD ideal.
Rumus = ideal =  X skor ideal
               SD ideal =  X (ideal)
Keterangan:
Skor ideal adalah skor maksimum yang mungkin dicapai testi jika semua soal dijawab dengan benar.
Contoh: misalnya skor ideal untuk tes IPA adalah 60, maka:
=  X 60 = 30
SD =  X 30 = 10
Batas lulus= 30+0,25.10 = 30+2,5 = 32,5
  • Mengubah skor untuk skor matang/terjabar.
Untuk mengkonversikan skor menjadi skor matang dapat digunakan table konversi berikut ini:
Skala Skor Mentah
Skala Skor Matang
Skala 1-10
Skala 1-4
huruf
+ 2,25 – SD
+ 1,75 – SD
+ 1,25 – SD
+ 0,75 – SD
+ 0,25 – SD
- 0,25 – SD
- 0,75 – SD
- 1,25 – SD
- 1,75 – SD
C- 2,25 – SD
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

4
3
2
1


0

A
B
C
D


E

Dengan menggunakan table konversi diatas, maka jika diketahui = 59,95 dan SD = 15,03 pedoman konversinya adalah:
Skor skala mentah
Rentangan skor matang
Skala 1-10
59,95+2,25. 15,03 = 59,95+33,81 = 93,76 = 94
59,95+1,75. 15,03 = 59,95+26,30 = 86,25 = 86
59,95+1,25. 15,03 = 59,95+18,78 = 78,73 = 79
59,95+0,75. 15,03 = 59,95+11,27 = 71,22 = 71
59,95+0,25. 15,03 = 59,95+ 3,75 = 63,7 = 64
59,95-0,25. 15,03 = 59,95 - 3,75 = 56,2 = 56
59,95-0,75. 15,03 = 59,95-11,27 = 48,68 = 49
59,95-1,25. 15,03 = 59,95-18,78 = 41,71 = 41
59,95-1,75. 15,03 = 59,95-26,30 = 33,65 = 34
59,95-2,25. 15,03 = 59,95-33,81 = 26,14 = 26
94 ke atas
86-93
79-85
71-78
64-70
56-63
49-55
41-48
34-40
26-33
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Jadi dengan menggunakan table konversi diatas, testi yang berada pada batas lulus atau diatas batas lulus adalah yang mendapatkan skor 64 keatas.
Prosedur pengolahan seperti diatas, biasanya dilakukan pada penilaian sumatif, sedangkan pada penilaian formatif, penentuan batas lulus ditentukan secara purposive, misalnya menggunakan persentase penguasaan materi, seperti kriteria berikut:
Derajat penguasaan
Nilai akhir
90-100%
80-89%
65-79%
55-64%
‹ 54%
A
B
C
D
E

Dengan menggunakan kriteria diatas, maka untuk mengkonversikan skor mentah menjadi skor matang dilakukan dengan cara membagi skor mentah dengan skor ideal kali 100%.
Nilai akhir =  x 100
Berikut akan disajikan konversi skor mentah ke skor matang / terjabar, denganskala 10-100. Cummulative Percentile Rank dan Percentile Rank.
Konversi ke dalam skala 10-100 :
Rumus : T score =  10 + SD
X = Skor mentah yang dicapai
M = Mean aktual
SD = Standar deviasi actual
50 dan10 = Mean dan standar deviasi dasar.

Contoh penggunaan :
Skor = 74
M = 59,95
SD = 15,03
T score =  10+50
             =  10+50
             = (0,93) 10+50 = 59,34
Cumulative Percentile Rank (CPR) :
Contoh:
Skor
f
Cum. fe
CPR
85-94
75-84
65-74
55-64
45-54
35-44
25-34
2
3
14
3
6
3
4
35
33
30
16
13
7
4
100
94
85
45
37
20
11,42

35



 x 100 = 11,42
Rumus: CPR =  x 100
CPR = Cumulative percentile rank
Cum. fe = Cumulative frequency
N = jumlah testi
Jadi antara skor 45-54 menduduki CPR 37,55 – 64 = 45 dst.
Percentile Rank (PR) :
Rumus : PR = 100 –
PR = Precentile rank yang dicari
R = Rank skor yang bersangkutan
N = jumlah testi
100 dan 50 = bilanga tetap.
Contoh :
Nama
Skor
Rank
PR
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
85
40
94
75
60
35
65
90
87
44
4
9
1
5
7
10
6
2
3
8
Dst




5
45


Dst

Jadi Precentile Rank (PR) G sama dengan :
PR = 100 -  = 100 –  = 100 -
      = 100-55 = 45
Jadi Precentile Rank (PR) F sama dengan :
PR = 100 -  = 100 –  = 100 -
      = 100-95 = 5











BAB III
PENUTUP


III.I Kesimpulan

Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian siswa yang tidak dapat dinilai secara kuantitatif seperti dalam teknik tes. Dengan kata lain penilaian non test behubungan dengan penampilan yang dapat diamati dibandingkan dengan pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati oleh indera.
Teknik non tes dapat digolongkan menjadi 5 jenis yaitu:
1. Pengamatan/Observasi
2. Wawancara
3. Angket/Kuisioner
4. Penugasan
5. Studi Kasus
Teknik penilaian harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut:
a. kompetensi yang diukur;
b. aspek yang akan diukur (pengetahuan, keterampilan atau sikap);
c. kemampuan siswa yang akan diukur;
d.sarana dan prasarana yang ada.












DAFTAR PUSTAKA

Djaali & Pudji M. 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Ilma, Ratu. 2010. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Bentuk Tes Formatif Terhadap

Sonasih, Dewi N.W. dkk. 1999. Tehnik dan Alat Evaluasi Pendidikan Non Tes. Bogor:
Universitas Ibnu Khlodun.

Wahyudin Uyu, dkk. 2006. Evaluasi pembelajaran SD. Bandung: UPI PRESS.